"Orang mukmin itu pemimpin atas dirinya. Sesungguhnya ringanlah hisab atas suatu kaum yang menghisab dirinya di dunia.Dan sesungguhnya sukarlah hisab pada hari kiamat atas suatu kaum yang mengambil persoalan ini tanpa hisab" (Hasan Al Bashri) Insya Allah jikalau hidup kita penuh manfaat dengan tulus ikhlas, maka kebahagiaan dalam bergaul dengan siapapun akan terasa nikmat, karena tidak mengharapkan sesuatu dari orang lain melainkan kenikmatan kita adalah melakukan sesuatu untuk orang lain (AA Gym)
ARSIP REDAKSI PROFIL BUKU TAMU KONTAK HOME ePAPER
Rakyat Aceh Online : BANDA ACEH - Bedah Buku ‘Aceh Pungo’ Menggelitik Pembaca
Selasa, 17 Maret 2009 | 07:58 Bedah Buku ‘Aceh Pungo’ Menggelitik Pembaca BANDA ACEH---Bedah buku ‘Aceh Pungo’ karya Taufik Al Mubarak, sedikit menggilitik pembacanya. Beberapa diantaranya mempertanyakan kegilaan Taufik mengambil judul tentang ‘Pungo’ (bahasa Aceh, gila-red). Ada juga yang mengkritisi isi buku yang masih kurang mewakili Aceh bagian lainnya, selain pesisir Timur Aceh yang di kupas penulisnya..
Salah satu warga Kota yang tertarik dengan judul itu, yaitu Barlian AW. Ia membaca ‘Aceh Pungo’, seperti masuk ke dalam pasar, tidak hanya menemukan barang sehari-hari, tetapi berbagai karakter pedagang dan aromanya. Menurut Barlian, pasar seperti ini sangat menganggu pemandangan, tetapi begitulah realitasnya.
Juga Mursalin Martunis, peneliti kesehatan. Dia mempertanyakan arti ‘Pungo’ yang diletakkan di halaman tengah, dan itu pun artinya hanya sebatas kegilaan orang Aceh yang ingin melakukan sesuatu yang aneh. Ia menyarankan, alangkah indahnya kalau menyebutkan apa sih ‘Pungo’ di sini.
Rahmat, warga Kota Banda Aceh, misalnya. Ia mengungkapkan kalau dikatakan Aceh pesisir, tidak juga, karena ia melihat cenderung lebih ke ke-Pidiean, dimana ceritanya hampir melulu tentang Pidie.”Apa karena penulisnya orang Pidie atau orang Pidie-nya yang banyak negatifnya?, Tanya Rahmat.
Ny. Dewi Muhammad Nazar memberikan apresiasinya, dimana Istri wakil gubernur Aceh ini, melihat banyak pelajaran dari buku tersebut. Misalnya, ujar Dewi, bahasa atau kata-kata yang menggunakan bahasa Aceh, harus dipertahankan kata-kata lama. Ia sendiri pun tidak begitu memahami kata-kata bahasa Aceh yang tidak pernah didengarnya.
Menurut Taufik, soal bahasa Aceh yang banyak dimuatnya di dalam bukunya, ia membeberkan bahwa tidak semuanya diambil dari kamus baha Aceh, melainkan arti dari bahasa gaul dan catatan sejarah.
Kegiatan bedah buku “Aceh Pungo” karya Taufik Al Mubarak, Senin (16/3) di Setui.
Acaranya didukung CAJP, Aceh Image, Delta Intermedia, Rasya Production, dan banda Publishing. Buku yang memuat ‘kegilaan’ orang Aceh ini, sudah terjual 60 persen dari cetakan pertama, seribu eksemplar. (ian)
JENAYAH
BERITA FOTO
SELEBRITA
OLAHRAGA ACEH
IKLAN
Pemanfaatan naskah sebahagian/seluruhnya dari website ini, mohon mencantumkan kode url http://rakyataceh.com