HEADLINE |
|
|
|
|
|
CAKRADONYA |
|
|
MALIKUSSALEH |
|
|
NAGGROE |
|
|
NASIONAL |
|
DO YOU KNOW? |
|
|
|
|
| |
 |
|
|
ARSIP REDAKSI PROFIL BUKU TAMU KONTAK HOME ePAPER |
Rakyat Aceh Online :
|
| |
Pemerintah Pusat Tak Peduli Kamis, 26 April 2012 | 10:08 Situs Sejarah Islami Ditelantarkan
GEUDONG- Pemerintah Pusat dinilai kurang peduli terhadap pengembangan situs serajah Islami di Aceh terutama di Kabupaten Aceh Utara. Hal ini seperti dengan kurang terurusnya Makam Malikussaleh, Putroe Nahrisyah dan makam pejuang islam lainnya di Aceh Utara. Apalagi, Monumen Kerajaan Pase yang direncanakan akan dibangun di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, hingga saat ini belum jelas pembangunannya. Hal itu disebabkan, akibat kurangnya kepedulian dari Pemerintah Pusat untuk mengalokasikan anggaran pembangunan Monumen Kerajaan Pase senilai Rp 45 miliar.
Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Aceh, Farhan Hamid dan Tgk Abdurrahman BTM, didampingi Pj Bupati Aceh Utara, M. Alibasyah, saat berziarah ke Makam Malikussaleh dan Putroe Nahrisyah, Samudera, Selasa (24/4), kepada Rakyat Aceh, menyikapi ini mengatakan, pihaknya berupaya untuk memperjuangkan anggaran pembugaran makam tersebut. “Memang kita akui saat ini posisi keuangan negara yang sangat terbatas, tapi juga pemerintah dapat memberikan kepedulian kepada situs sejarah islam di Aceh,” cetusnya, seraya menambahkan, saya kira bukan termasuk di Aceh, namun Indonesia secara menyeluruh saat ini masih tertinggal untuk memelihara masa lalu yang sangat bagus.
Sebut dia, terkait akan membangun Monumen Kerajaan Pase itu tidak hanya menjadi tanggungjawab Aceh Utara, juga Provinsi Aceh dan termasuk Pemerintah Pusat yang harus memberikan kontribusi anggaran.
“Sebenarnya itu bukan kelas Aceh Utara, tapi sudah termasuk kelas nasional untuk mengalokasikan dana dari APBN,”ungkapnya. Selain itu, lanjut Farhan Hamid dan Tgk Abdurrahman BTM pihaknya akan menyampaikan kepada Pemerintah Pusat dan Wakil Menteri Bidang Kebudayaan dapat turun langsung ke Makam Malikussaleh dan Putroe Nahrisyah, di Kecamatan Samudera, Aceh Utara.
Menurutnya, kondisi lokasi makam saat ini belum memenuhi harapan kita untuk menarik wisata-wisata asing, tidak hanya juga untuk mempelajari sejarah, tapi sarana dan prasarana pendukung yang harus diutamakan. “Objek wisata itu merupakan objek wisata spritual yang perlu dikembangkan secara terus menerus,”ujarnya. (arm)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Pemanfaatan naskah sebahagian/seluruhnya dari website ini, mohon mencantumkan kode url http://rakyataceh.com |
|
|