HEADLINE |
|
|
|
|
|
CAKRADONYA |
|
|
MALIKUSSALEH |
|
|
NAGGROE |
|
|
NASIONAL |
|
DO YOU KNOW? |
|
|
|
|
| |
 |
|
|
ARSIP REDAKSI PROFIL BUKU TAMU KONTAK HOME ePAPER |
Rakyat Aceh Online : Berita Utama - Penyelenggaraan Haji Semrawut
|
| |
Rabu, 9 November 2011 | 10:41 Penyelenggaraan Haji Semrawut
JAKARTA – Penyelenggaran haji oleh pemerintah ternyata masih semrawut. Pasalnya, kasus pemondokan, transportasi, katering dan kesehatan belum terlaksana dengan baik. Demikian penuturan Anggota Komisi Agama DPR dari Fraksi PKS, Jazuli Juwaini, Selasa (8/11). Menurutnya, jika pemerintah memang tidak bisa memperbaiki pelayanan terhadap jamaah haji, maka perlu dibentuk badan khusus penyelenggara haji.
Jazuli menilai, pelayanan haji dari pemerintah tiap tahunnya hanya terfokus pada soal pemondokan, transportasi, katering, dan kesehatan. Tapi, katanya, keempat hal tersebut justru selalu menjadi masalah. Oleh karena itu, Jazuli berpendapat kemampuan Kementerian Agama dalam menyelenggarakan ibadah haji perlu dievaluasi.
“Ide untuk membuat badan yang terpisah dari Kemenag untuk pengelolaan dan pelayanan haji, layak untuk didalami dan diseriusi demi peningkatan pelayanan kepada tamu-tamu Allah SWT,” ujar Jazuli.
Jazuli menekankan, banyak hal terkait kegiatan pelayanan haji yang harus dibenahi. Soal transportasi misalnya, Jazuli menyebutkan ada kelompok jamaah yang tinggal di pemondokan yang jaraknya cukup jauh, tapi tidak disediakan sarana transportasi yang memadai.
“Ada kloter dari Medan yang sudah tinggal sepekan di Bahotmah, baru disiapkan bus. Akibatnya, kekhusyuan ibadah mereka terganggu,” papar Jazuli.
Katering Bermasalah
Selain itu, terkait soal pemondokan, standar pondokan di ring 1 antara Kementerian Agama dengan pemerintah Arab Saudi, ternyata menurut Jazuli berbeda. Ia membeberkan, pemerintah Arab Saudi menetapkan ring 1 maksimal berjarak 2 km dari Ka’bah, sedangkan Kementerian Agama RI menetapkan ring 1 berjarak 2,5 km dari Ka'bah.
Terkait persoalan katering, Jazuli juga menyesalkan Kemenag yang masih saja menggunakan cara prasmanan, sehingga banyak jamaah yang harus mengantri untuk menyantap makanan. Belum lagi, kata dia, soal gizi makanan yang belum sepenuhnya layak. “Di Arafah dan Mina, satu kloter jamah haji hanya mendapat satu tempat prasmanan. Padahal jumlah mereka 450 orang. Calon jamaah haji jadi harus antri panjang,"ungkapnya lagi.
Tamu-tamu Allah tentu tidak layak diperlakukan seperti itu. Kalau Malaysia bisa pakai nasi kotak, kenapa jamaah kita tidak bisa? Ini menandakan lemahnya Kemenag melakukan nego dengan pihak maktab,” kata Jazuli.(int)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Pemanfaatan naskah sebahagian/seluruhnya dari website ini, mohon mencantumkan kode url http://rakyataceh.com |
|
|